Berkembang Bersama Al-Izzah

Sekitar 2 tahun yang lalu, selepas saya resign dari sebuah perusahaan per-bank-kan syariah di Purwokerto. Saya kemudian melanjutkan untuk bekerja di sebuah Sekolah swasta. Al-Izzah, itulah nama lembaga yang saya pikir bisa memfasilitasi saya untuk lebih mengembangkan diri sesuai dengan apa yang saya cita-citakan.

Berbekal kenekatan dan juga informasi dari teman, saya mendaftarkan diri di sekolah tersebut. Selang 1 minggu, saya diundang untuk tes wawancara. Kemudian saya diminta untuk langsung datang dan praktik mengajar.

Saya mendatangi sekolah tersebut. Awal kedatangan saya. Saya disambut oleh anak-anak kecil yang begitu imut-imut. Jiwa-jiwa yang masih murni dan semangat ini yang membawa saya semakin menukik dalam dunia pendidikan formal.

Saat awal saya kurang PEDE dalam menghadapi anak-anak. Apalagi mereka itu masih kecil-kecil dan pastinya sulit dalam mengkondisikan. Hhhmmppphhhh

Belum lagi saat mereka tiba-tiba mengompol, muntah, buang air dan sebagainya… ini adalah latihan menjadi ayah rumah tangga yang baik. Saya jadi teringat dengan ibu saya yang dengan tulus mengasuh saya dari bayi sampai anak-anak. Ya, karena setelah menjadi anak-anak saya diasuh oleh embah saya. Entah kenapa saya memilih di tempat embah dan bersekolah di sana. Hanya sesekali pulang ke rumah ibu.

Kembali ke laptop,

Itu adalah tantangan saya saat awal masuk al-izzah. Hal seperti itu sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi para ibu yang menjadi guru di TK. Saya juga kembali mengingat memori saya saat TK. Bermain drum band, ayunan yang selalu menunggu antrian, plosotan yang terbuat dari bahan seng sehingga panas jika terkena sinar matahari, makan di hari jum’at, teman-teman yang jahil kepada saya, ibu guru yang cantik. Hehe…

Berbeda dengan sekolah kebanyakan, al-izzah memiliki banyak hal-hal yang sangat dianjurkan bagi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Ya, sebetulnya poin utama dari karakter lulusan sekolah ini adalah berwawasan lingkungan yang ilmiah dan juga selalu mengedepankan keislaman dalam berbagai aspek kehidupan. Itulah pendidikan berbasis fitrah. Pendidikan yang menyesuaikan dengan usia kematangan perkembangan anak.

Di sini saya jadi memiliki sudut pandang yang lain dalam pendidikan. Setiap anak dibiasakan untuk mandiri dengan pendekatan-pendekatan motivasi internal. Maksudnya adalah setiap anak untuk berlaku sesuai dengan akhlak yang baik namun akhlak tersebut muncul dari kemauan dalam dirinya sendiri. Sehingga ada maupun tidak ada sang guru, anak tetap melakukan adab-adab yang baik dalam segala aktivitasnya.

Hal tersebut tentu saja tidak bisa berjalan tanpa dukungan dari lingkungan yang baik. Lingkungan yang utama mendukung tentu saja dari keluarga. Karena keluarga merupakan awal pembelajaran setelah dari rahim ibunda.

Ya, banyak hal yang bisa di dapat di al-izzah. Sekarang saya mengampu kelas 2 SD. Dan siap kembali belajar untuk mendidik anak-anak menjadi generasi penerus bangsa yang islami. Yang akan menggantikan generasi saat ini. Demi kejayaan islam. Allahu Akbar

Please follow and like us:
Facebook
Facebook
YouTube
INSTAGRAM

Related posts

Leave a Comment