Anak Main Game?! Tenang Saja…

Oleh: Robi Rizkianto, 5 April 2016

“tembaakk…! bikin senjata lagi biar banyak, baru kalau siap langsung serang”, celoteh anak. Yah, itu mungkin gambaran celoteh anak saat sedang bermain game. Mereka asyik sekali kalau sudah bermain. Kadang bisa lupa belajar, bahkan sholat. Atau bisa jadi sengaja melupakannya, anak lebih memilih terusan bermain game. Eitsss… ada juga khan anak yang meski bermain game tapi tetap belajar dan bermain?!

Saya memperhatikan ada dua tipe anak bermain game. Ada yang berjam-jam. Namun, ada pula yang terkontrol, hanya seminggu dua kali selama 1 jam. Dengan adanya dua tipe anak ini, tentunya akan menghasilkan anak dengan kualitas yang berbeda pula dari segi karakter.

Kebiasaan anak akan membentuk karakter. Kebiasaan bermain game ini bukan berpengaruh kepintaran akademik. Banyak kita temukan anak yang sering bermain game setiap hari pun ternyata juga bagus akademiknya. Sehingga bukan mutlak benar jika game itu penghambat belajar anak. Misalkan saja anak tidak pernah bermain game tapi selalu nonton televisi, maka sama saja itu akan menjadi penghambat belajar anak. Apakah televisi tidak ada manfaatnya?! Ada. Sama halnya dengan bermain game pun, persoalannya bukan pada game tersebut tapi kontrol waktu.

Jika kita melihat dengan fair maka permainan game pun ada manfaatnya buat anak jika waktu bermainnya mampu dikontrol oleh orangtua. Pertama, anak bisa belajar bahasa inggris. Umumnya seluruh bahasa yang dipakai dalam game menggunakan bahasa inggris. Kedua, anak bisa belajar membuat perhitungan yang jelas. Banyak game yang trend sekarang temanya tentang pertempuran. Anak harus menyusun strategi yang jitu agar anak mampu mengalahkan lawannya. Ketiga, kemampuan otak kanan anak akan meningkat. Imajinasi anak akan semakin meningkat dengan bermain game. Kemampuan imajinasi tersebut bisa mendongkrak kemampuan anak membuat produk atau melakukan hal yang kreatif. Masih banyak lagi lainnya. Disamping itu, memang bermain game tetap memberikan dampak negatif jika lost control (tidak dikontrol) dan tanpa pendampingan orangtuanya.

“Bagaimana cara mengontrolnya?? Mendampingi gimana maksudnya?! Main game kok didampingi?”, mungkin itu yang terlintas di pikiran saat ini. Cara mengontrolnya, baiknya anak diberi jam khusus untuk bermain. Selain jam tersebut, maka anak tidak boleh bermain game, baik di rumah atau luar rumah. Setiap anak memiliki kecanduan yang berbeda-beda, maka tidak ada aturan yang terbaik. Bisa seminggu sekali dari jam sekian sampai sekian. Bisa setiap hari asalkan hanya 30 menit. Orangtua yang lebih paham cara mengontrolnya. Untuk orangtua yang ingin menghentikan kecanduan anaknya, maka sebaiknya aturannya bertahap saja. Kemudian cara mendampingi anak, pertama bisa dilakukan dengan cara orangtua memeriksa semua permainan game anak. Apakah permainan tersebut layak untuk anak-anak atau tidak. Karena permainan game ada yang mengandung pornografi. Maka orangtua harus selektif. Kedua, orangtua kadangkala bisa memberitahu anak arti bahasa inggris di permainan tersebut agar anak sekalian belajar bahasa inggris juga. Atau bisa juga orangtua memberikan syarat ke anak, misal anak boleh bermain game dengan syarat mencatat dan menghafalkan kosa kata di game tersebut. Cara ini memaksa anak untuk mencatat dan menghafalkan kosakata bahasa inggris agar bisa terus bermain.

Mari kita tenangkan diri menghadapi anak-anak kecanduan game. Lakukan kontrol dan pendampingan intensif bagi mereka. Lakukan bertahap untuk mengatasi kecanduan bermain game anak.

Please follow and like us:
Facebook
Facebook
YouTube
INSTAGRAM

Related posts

Leave a Comment