Mencari Kejujuran di Padang Pasir

Salah satu sikap yang sudah luntur di kalangan masyarakat sekarang, sikap jujur. Bahkan di keluarga pun, tanpa sadar orangtua mengajarkan ketidakjujuran itu ke anak. “Kok bisa?!, nggak mungkin orangtua ngajarkan anak nggak jujur ”, pikir kita. Saya ambil beberapa contoh kasus. Misalkan ada telepon dari teman orangtua, anak yang disuruh angkat telepon. Saat penelpon tanya, “ada bapaknya nak?”. Kadang orangtua menyuruh anak berbohong, “bilang bapak lagi keluar, nggak di rumah”. Jika anak bertanya, “kenapa bapak tadi nyuruh aku bilang bapak nggak ada?!”. Alasan orangtua, “iya, bapak lagi capek, males mau ketemu orang”.

Peristiwa itu mengajarkan anak bahwa berbohong itu diperbolehkan asalkan itu untuk kebaikan. Anak akan membolehkan berbagai hal buruk asalkan untuk kebaikan. Padahal, dalam islam seseorang diperbolehkan berbohong hanya dalam tiga hal yakni peperangan, mendamaikan orang yang berselisih dan istri pada suami (dengan tujuan kebaikan rumah tangga).

Saat anak berpikir bahwa berbohong untuk semua jenis kebaikan diperbolehkan maka akan ada efeknya di sekolah. Kita akan menjumpai mereka menjadi anak yang suka mencontek, alasannya biar nilai mereka baik. Anak-anak akan berbohong saat mencuri makanan, alasannya biar perut dia nggak sakit. Atau anak mencontekkan atau mencurikan makanan untuk temannya diperbolehkan. Padahal sama saja anak membantu perbuatan buruk. Ini perkaran yang fatal. Kelak kita akan kesulitan menemukan siswa yang jujur, ibarat mencari emas di padang pasir. Sangat susah sekali.

Alhamdulillah, berbeda dengan siwa-siswi al izzah purwokerto. Saat mereka ujian, atau sekedar mengerjakan soal, mereka tidak saling contek. Bahkan meski ditinggal guru sekalipun. Sehingga, memang mereka mengerjakannya sangat cepat. “Loh kok bisa, nggak nyontek kok malah cepat?!”, pikir kita. Mereka bisa mengerjakan dengan cepat karena mereka tidak menghiraukan jawaban temannya. Jika mereka menjumpai soal yang tidak bisa, maka mereka jawab menurut perkiraan mereka. Jadi mereka tidak nunggu momen untuk nyontek. Salah satu alasan siswa mengerjakan lama karena mereka nunggu momen mencontek.

Anak terbentuk dari dua lingkungan, lingkungan sekolah dan keluarga. Lingkungan sekolah, seperti sekolah al izzah purwokerto, kita kondisikan agar lingkungan aman bagi anak. Aman dalam hal pemikiran dan sikap. Lingkungan sekolah berusaha sebaik mungkin menularkan kebaikan menurut Quran dan Sunnah. Adapun untuk lingkungan keluarga, agar lingkungan keluarga turut “aman” bagi anak maka sekolah al izzah memfasilitasinya dengan adanya parent class per dua bulan sekali. Dalam forum parent class, pihak sekolah akan memberikan pengarahan tentang lingkungan yang aman bagi anak saat di rumah. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan share bersama wali kelas untuk mengetahui tingkat perkembangan anak di sekolah. Baik perkembangan akademik maupun sikap anak selama di sekolah. Disinilah terjadi diskusi cara pengasuhan anak yang tepat, baik di sekolah (kelas) maupun di lingkungan keluarga.

Berikan lingkungan yang “aman” bagi anak. Ajarkan kejujuran yang berlandaskan quran dan sunnah agar anak bisa bersikap jujur dengan benar. Beritahukan ke anak bahwa baik dan buruk itu bukan dari sudut pandang manusia, tapi acuannya dari Quran dan Sunnah. Ternyata untuk bersikap jujur, keluarga memiliki peranan yang sangat besar bagi anak.

Please follow and like us:
Facebook
Facebook
YouTube
INSTAGRAM

Related posts

Leave a Comment