Setelah Shalat Dzuhur di Masjid Unwiku

Coretan ini saya persembahkan untuk diri saya pribadi seorang hamba Allah yang sering mengeluh dan sering lupa bersyukur serta teruntuk ikhwani wa akhwati fillah rahimakumullah :

Setelah shalat Dzuhur di masjid Unwiku, saya berjalan kembali ke Al-Izzah. Dari kejauhan mata saya menangkap sosok tua dengan pikulan yang membebani pundaknya. “Tuuuuuu………ttt!!”, saya hapal betul apa yang dijajakannya, panganan langka yang menjadi kegemaran saya di masa kecil. Kue putu bumbung terbuat dari tepung beras yang ditumbuk kasar dan dibasahi dengan air, tepung beras ini disimpan di laci yang menempel pada pikulan si penjual kue putu. Kemudian, adonan tepung dimasukkan ke dalam bumbung bambu , di dalamnya diberi parutan gula merah.

Bumbung yang berisi bahan putu tersebut selanjutnya dipanaskan diatas kaleng minyak yang diberi lubang sehingga mengeluarkan hawa panas tadi. Hawa panas dari lubang itulah yang kemudian memanaskan beras dan gula, sehingga putu dalam bumbung itu bisa matang.

Setelah matang, si penjual akan mencabut bambu-bambu berisi adonan lalu mendorong keluar kue putu dari bumbung bambu dengan kayu. Kue putu bumbung dihidangkan dengan diberi parutan kelapa muda. Manis, asin, gurih rasa putu bumbung itu lebih nikmat disantap selagi hangat.
Hemm…nikmat, pasti.

“Assalamualaikum pak, boleh saya beli kuenya” sapaku.

“Waalaikumsalam, ya boleh sekali , mau beli berapa?” Jawab bapak penjual putu bumbung itu sambil tersenyum.

“Saya beli lima ribu saja boleh pak? oh iya mohon maaf kalau boleh tahu nama bapak siapa?” tanyaku

“Nama saya Dahlan “jawabnya sambil mengangguk dan tersenyum, tanda saya boleh membeli kuenya seharga lima ribu saja.

Tiga jam setengah berkeliling, tuturnya, baru saya lah yang menghentikannya untuk membeli kuenya. “Kenapa bapak tidak mangkal saja agar tidak terlalu lelah berkeliling,” iba saya sambil menaksir usianya yang sudah di atas angka enam puluh. “Saya nggak pernah tahu dimana Allah menurunkan rezeki, jadi saya nggak bisa menunggu di satu tempat. Dan rezeki itu memang bukan ditunggu, harus dijemput. Karena rezeki nggak ada yang nganterin,” jawabnya panjang.

SUBHANALLAH

Ini yang saya maksud dengan keuntungan dari obrolan-obrolan ringan yang bagi sebagian orang tidak menganggap penting berbicara dengan penjual kue murah seperti Pak Dahlan ini. Kadang dari mereka lah pelajaran-pelajaran penting bisa didapat. Beruntung saya bisa berbincang dengannya dan karenanya ia mengeluarkan petuah yang saya tidak memintanya, tapi itu sungguh penuh makna.

“Setiap langkah kita dalam mencari rezeki ada yang menghitungnya, dan jika kita ikhlas dengan semua langkah yang kadang tak menghasilkan apa pun itu, cuma ada dua kemungkinan. Kalau tidak Allah mempertemukan kita dengan rezeki di depan sana, biarkan ia menjadi tabungan amal kita nanti,” lagi sebaris kalimat meluncur deras meski parau terdengar suaranya.

SUBHANALLAH

“Tapi kan bapak kan sudah tua untuk terus menerus memikul dagangan ini?” pancing saya, agar keluar terus untaian hikmahnya. Benarlah, ia memperlihatkan bekas hitam di pundaknya yang mengeras, “Pundak ini, juga tapak kaki yang pecah-pecah ini akan menjadi saksi di akhirat kelak bahwa saya tak pernah menyerah menjemput rezeki.”

SUBHANALLAH

Sudah semestinya isteri dan anak-anak yang dihidupinya dengan berjualan kue putu bumbung berbangga memiliki lelaki penjemput rezeki seperti Pak Dahlan. Tidak semua orang memiliki bekas dari sebuah pengorbanan menjalani kerasnya tantangan dalam menjemput rezeki. Tidak semua orang harus melalui jalan panjang, panas terik, deras hujan dan bahkan tajamnya kerikil untuk membuka harapan esok pagi. Tidak semua orang harus teramat sering menggigit jari menghitung hasil yang kadang tak sebanding dengan deras peluh yang berkali-kali dibasuhnya sepanjang jalan. Dan Pak Dahlan termasuk bagian dari yang tidak semua orang itu, yang Allah takkan salah menjumlah semua langkahnya, tak mungkin terlupa menampung setiap tetes peluhnya dan kemudian mengumpulkannya sebagai tabungan amal kebaikan.

Sewaktu kecil saya sering membeli kue putu bumbung, tidak hanya karena nikmat rasanya melainkan juga harganya pun murah. Sekarang ditambah lagi, kue putu bumbung tak sekadar nikmat dan murah, tapi Pak Dahlan pedagang yang membuat kue putu  itu semakin lezat dengan kata-kata hikmahnya. Lagi pula saya tak perlu membayar untuk setiap petuahnya itu.

ALLAHUMMA A’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBADATIK

(ya Allah, tolonglah aku agar selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu)

 

 

 

Please follow and like us:
Facebook
Facebook
YouTube
INSTAGRAM

Related posts

Leave a Comment