Belajar itu Tunas dari Karakter yang Kuat

Oleh: Robi Rizkianto

21 September 2016, Purwokerto

Belajar itu bagian dari pembentukan karakter anak. Saat anak rutin belajar maka dirinya sedang mengasah karakternya menjadi kuat. Anak akan sadar bahwa keberhasilan harus dilalui dengan belajar. Anak tersebut pun akan belajar untuk berkompetisi mendapatkan nilai yang terbaik. Memang nilai tidak begitu penting, tapi karakter kompetisi itu bisa dilahirkan dengan merutinkan belajar. Hanya saja, tetap anak memiliki waktu bermain. Tujuannya agar anak bisa mengasah kecerdasan sosialnya juga.

Saya ingin menceritakan murid saya yang bernama Muhammad Ridwan, dipanggil Ridwan. Dia anak yang cerdas. Bahkan setiap ujian dirinya tidak perlu belajar. Biasanya pun, tiap harinya juga jarang belajar di rumah. Meski demikian, nilainya selalu tertinggi. Seringkali saya memberikan petuah-petuah di kelas tentang urgensi belajar. Saya menekankan bahwa maksud saya meminta anak-anak belajar adalah agar mereka memiliki karakter yang kuat. Mereka yang tidak pernah belajar akan memiliki karakter menggampangkan masalah karena sudah merasa mampu.

Namun, hari ini saya senang mendengar perkataan Ridwan. Dirinya berkata ke saya, “Ustadz, selama aku kelas 1 sampai kelas 4 cuma sekarang ini aku baru pertama kali UTS belajar.” Saya berdecak kagum dalam hati, alhamdulillah akhirnya belajar juga. Ada beberapa anak lainnya dapat nilai belum bagus. Saya tanya apa belajar tidak di rumah. Alhamdulillah dirinya menjawab belajar. Saya tidak terlalu masalah jika mereka nilai masih belum bagus, asalkan mereka sebelumnya sudah belajar dengan sungguh-sungguh.

Saya menaruh harapan besar ke mereka agar kelak menjadi sosok anak-anak yang luar biasa. Berkali-kali pula saya memberi semangat ke mereka tentang keberhasilan diperoleh dengan susah payah. Saya pernah memberi pengandaian, orang yang mendaki gunung. Para pendaki gunung tersebut sangat susah mencapai puncak. Pendaki tersebut harus melawan dinginnya cuaca, tingginya tebing, curamnya tanjakan hingga persediaan makanan yang menipis. Namun, setelah sampai di puncak gunung para pendaki tersebut akan merasakan senang yang luar biasa atas keberhasilannya. Hal yang perlu diingat, keberhasilan itu bukan perkara mudah. Justru butuh perjuangan lewat belajar.

Belajarlah terus anak-anak, semoga semakin kuat pula karakter kalian.

 

Please follow and like us:
Facebook
Facebook
YouTube
INSTAGRAM

Related posts

Leave a Comment