Matanya berkaca-kaca karena menyesal

Oleh: Robi Rizkianto

Purwokerto, 9 September 2016

Bukan perkara yang mudah membangun karakter anak. Kita harus rutin menata bongkahan-bongkahan kebiasaan positif pada anak setiap harinya agar kita berhasil mendirikan bangunan karakter yang kokoh dalam jiwanya. Untuk menjadi bangunan karakter yang kokoh maka lekatkan antar bongkahan tersebut dengan agama. Tanpa dilekatkan, bangunan itu akan mudah runtuh.

Saya ingin bercerita seorang siswa yang saat itu diberitau oleh orangtuanya bahwa anaknya kalau marah sering kelewat batas dan masih belum memiliki rasa malu sehingga kadangkala tanpa sehelai pakaian dirinya tidak risih dilihat orang lain. Orangtuanya meminta saya membantunya agar lebih memperhatikan anaknya yang merupakan siswa saya.

Siang sepulang sekolah, saya meminta siswa tersebut untuk berbicara dengan saya. Saya mulai memancing pembicaraan mengenai aktivitas dirinya saat di rumah. Dirinya mulai mengatakan sendiri bahwa jika sehabis mandi kadangkala tanpa pakaian sama sekali berjalan-jalan.

Saya mengatakan kurang lebihnya seperti ini…..

Ustadz sejak pertama lihat kamu, ustadz liat kamu anak yang hebat. Dan ustadz liat kamu memang anak hebat. Kamu termasuk bagus akademik diantara teman-temanmu. Tinggal sekarang kamu harus lebih mandiri. Kamu sering digangguin teman karena kamu kurang mandiri. Kalau kamu sudah mandiri, mental kamu akan kuat. Kamu nggak akan mudah nangis. Ustadz percaya kamu pasti bisa.

Gimana kamu kalau di rumah, apa sudah ada rasa malu?

Dijawab, “hehee…. aku pernah nggak pakai apa-apa keluar kamar mandi tapi masih di rumah kok ustadz

Saya berkata, “Sekarang sudah saatnya kamu ada rasa malu. Kalau memang belum terasa malu, kamu harus tau kalau kita ada aurot yang harus ditutupi. Ustadz pernah diberitau dengan orangtuamua kalau kamu marah nggak terkontrol y…

Dijawab dengan jujurnya, “Iya, aku marah soalnya pengen mainan. Aku pernah marah ke mami papi dengan bahasa yang saru (kotor)

Saya berkata, “Masya allah…. kamu dibesarkan orangtuamu dari kamu kecil sampai kamu besar gini. Orangtuamu kasih yang terbaik buat kamu sejak kecil. Trus kamu balas dengan kata yang saru. Kamu nggak tau, ibumu mungkin setelah kamu bilang saru masih bisa senyum di depanmu. Tapi kamu nggak tau, tengah malam ibumu nangis di sholatnya. Ibumu ngadu ke Allah, kenapa anaknya yang diasuh bertahun-tahun dengan kasih sayang justru kamu balas dengan kata-kata saru hanya karena kamu nggak dibelikan mainan.”

***Air matanya berkaca-kaca saat saya berkata begitu, saya pun ikut ingin nangis***

Saya lanjutkan dengan pertanyaan, “Kamu mau minta maaf ke orantuamu sepulang ini y….?!

Dijawab, “Aku malu tadz….. aku nggak mau

Saya berkata, “Usahakan minta maaf ke bapak ibu kamu, biar hati mereka seneng dengan sikapmu.

Dirinya mengelengkan kepalanya, menunjukkan menolak.

Saya berkata, “Kalau nggak mau, setidaknya kamu harus berjanji perbaiki sikapmu. Jangan mudah marah, kasihan orangtuamu

Dengan menganggukkan kepalanya, dirinya sepakat. Kemudian saya akhiri percakapan dengannya dengan harapan dirinya bisa lebih baik.

Itu sekilas dialog menarik saya dengan siswa saya yang sudah berlangsung sekitar sebulan lalu. Mohon doakan moga dirinya kelak memiliki karakter yang kokoh. amiin

Please follow and like us:
Facebook
Facebook
Google+
http://al-izzah.sch.id/2016/09/matanya-berkaca-kaca-karena-menyesal/
YouTube
INSTAGRAM

Related posts

Leave a Comment