Power Ranger of Al-Izzah

Sejak awal berjumpa dengan kalian, sudah saya tanamkan dalam hati ini bahwa kalian adalah anak-anak saya. Kelak yang akan ikut membangun peradaban Islam di Indonesia mendatang.

Masing-masing memiliki karakter. Saya pun tidak mempermasalahkannya. Ada si Rajin, Farrel yang selalu mengingatkan teman-teman saat lupa belum piket. Ada si Penyiar, Rizdan yang bisa menghidupkan suasana kelas. Ada si Pendiam, Royhan yang secara gerilya membuat gambar-gambar menakjubkan. Si Periang, Irfanto yang jika tertawa membuat orang-orang di sekelilingnya tertawa tanpa harus tahu sebab tertawanya. Ada Si Friendly, Tangguh yang suka menyapa setiap orang dengan sebutan “My Fren”. Tidak ketinggalan diantara barisan cowok adalah Hafizh. Hafizh yang pintar terkadang suka ngetes saya. Kalau sudah bersatu, mereka seperti Power Ranger yang tidak terkalahkan. Mungkin sudah menggunakah megazord untuk menjaga benteng pertahanan sehingga saya butuh waktu agak sebentar untuk merapikan benteng tersebut supaya saya bisa melompatinya. Kekuatan saya harus lebih besar dari mereka. Apalagi jika mereka sudah menggunakan jurus “bercanda”. Saya harus mengerahkan kekuatan turbo untuk mengarahkan kembali ke laptop. But, so far so good. Akhirnya, mereka menjadi memperhatikan sang guru kembali.

Itu baru yang cowok. Ada lagi ni yang cewek. Pertama, si trensetter, Aghniya. Diantara teman-teman cewek. Dia yang paling punya taste. Kalau mau mengarahkan teman-teman cewek, maka ambillah hati Aghniya insya Allah semua idem dengannya. Tetapi ingat, ada si Kritis Zahra yang siap menangkal semua tindakan yang mengarah pada ketidaknyamanan dunia cewek. Dia siap menyokong para cewek. Dan juga harus diperhatikan, ada Fathiya Yasmin yang pintar, yang selalu membantu teman-teman perempuan saat dibutuhkan. Juga Ruqoyyah, yang siap menulis setiap kejadian menjadi cerpen yang orisinal. Chindy pun juga selalu mengingatkan teman-teman saat teman-teman melakukan kesalahan. Chindy perlu diwaspadai karena siapa pun yang tidak disiplin melaksanakan kewajiban pasti kena semprot. Tidak ketinggalan Farranisa yang meskipun pendiam tetapi dia berfikir. Dan Farranisa telah membuat teman-teman kelas 6 Al-Fajr menjadi lebih dewasa dalam pergaulan.

Kalau mereka sudah menyatukan kekuatan, maka girl power muncul dan siap menumpas kejahatan yang merugikan keharmonisan para wanita.

Sekilas info ini sebagai pelipur rindu sang guru yang sudah ditinggal “anak-anaknya” menuju ke tempat pendidikan yang lebih tinggi. Tempat dimana pijakan cita-cita semakin mendekat. Dan semoga kenangan ini tetap tersimpan di dalam memori hati. Semoga cita-cita kalian tercapai bersamaan dengan keberkahan ilmu agama yang telah kalian pelajari. Dan kutambahkan pesan untuk kalian, “don’t be afraid to try a new world with Allah inside your heart”.(Angga Al Rasyid)

Please follow and like us:
Facebook
Facebook
YouTube
INSTAGRAM

Related posts

Leave a Comment