Sikap Empati Namira dan Anam

Oleh: Robi Rizkianto, 15 April 2016

Siang ini, sepertinya matahari sedang malu memancarkan sinarnya meski jam di HP saya sudah pukul 14. Mungkin matahari siang ini malu karena begitu takjubnya dengan sikap dua murid al izzah dari kelas 4 yang saya tangani (Namira & Anam). Ada kejadian unik antara Kafka (kelas 3), Namira dan Muhammad Zuhrul Anam, dipanggil Anam. Sayangnya, saya tidak sempat mengabadikannya dalam foto.

Anak-anak dari kelas 3 dan 4 sekitar pukul jam 14.00 sedang bermain di lapangan, sembari menunggu jemputannya. Sebagian diantara mereka bermain plosotan (mainan yang meluncur dari atas ke bawah), ada Kafka, anam dan teman lainnya. Saat itu, Kafka yang berada di atas plosotan meminta tolong ke Anam biar dibantu bangkit. Anam sudah memegang satu tangan Kafka dan tangan satunya Kafka memegang pegangan besi di dekatnya. Ehhh…. ternyata Anam tidak kuat memegangnya. Akhirnya meluncurlah Kafka ke bawah dengan posisi menghadap belakang. Sontak saja, Kafka nangis.

Justru dari peristiwa itu, terlihat kualitas kecerdasan sosial Anam berupa rasa empati. Melihat Kafka yang menangis, Anam mendekati Kafka dan meminta maaf kalau Anam yang salah. Kafka tidak langsung memaafkan. Berkali-kali anam meminta maaf ke Kafka karena tidak bisa memegang tangannya dengan erat. Meski Kafka terdiam, Anam yang cukup lama meminta maaf ke Kafka terlihat sangat menyesal.

Saya yang sengaja hanya melihatnya dari atas kelas, kemudian memberi isyarat ke Namira agar Kafka dibantu menenangkan diri. Namira pun mendekati Kafka, menanyakan apa yang terjadi. Namira duduk di dekatnya dan menemani Kafka yang masih menangis perlahan. Selang sekian menit, saya melihat Namira mengeluarkan hansaplast, penutup luka, untuk Kafka. Namira memberikan hansaplast miliknya ke Kafka. Kemudian Kafka berhenti menangis dan segera menutup sendiri luka kecilnya dengan hansaplast milik Namira. Saya tiba-tiba terlihat oleh Namira, saya pun memberikan “tanda keren” dengan jempol ini. Hehehe…..

Saya yang melihat kejadian ini, merasa takjub dengan sikap empati yang mereka miliki. Mereka memiliki kecerdasan sosial yang sangat baik. Anam merasa menyesal karena tidak bisa memberikan yang terbaik bagi Kafka karena gagal menarik tangan Kafka. Artinya Anam sebenarnya sangat ingin sekali membantu Kafka tapi ternyata tangannya terlepas. Adapun Namira, saya takkjub dengan sikap Namira yang mampu mempunyai inisiatif memberikan hansaplast untuk Kafka.

Saya sadar, ternyata di Sekolah Islam Al izzah ini, mereka tidak sekedar diasah kecerdasan logikanya saja. Akan tetapi, para ustad/ustadzah juga mengasah kecerdasan sosial siswa-siswinya juga agar saling peduli antar sesama saudaranya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *