Makna Hari Kemederkaan Secara Hakiki

Merdeka…Merdeka….Merdeka…kata-kata itu yang terus saya ucapkan ketika mendekati tanggal 17 Agustus. Bagi saya setiap datang bulan Agustus adalah special dan bersemangat. Ya betul alasannya karena pada bulan inilah Indonesia Ku telah “merdeka” dari kebodohan, penjajahan, kemiskinan dan kesengsaraan.  Memang pada dasarnya Negara ini masih belum dikatakan “merdeka” seutuhnya. Akan tetapi setidaknya Indonesia Ku sudah damai dan tidak ada lagi perang seperti waktu penjajahan.

 

Setiap tanggal 17 Agustus selain lain mengenang akan perjuangan dan semangat para pahlawan dan ulama untuk memerdekaan bangsa ini dari penjajah, kami juga memiliki tradisi special pada saat moment hari kemerdekaan yakni upacara bendera dan lomba-lomba. Pada kali ini upacaranya sangat special dan berbeda, biasanya setiap upacara yang menjadi petugas anak-anak kelas 4, 5 dan 6. Akan tetapi kali ini yang menjadi special adalah yang menjadi petugas upacara adalah ustadz dan  ustadzahnya teman pokoknya keren dan special. Kali ini pemimpin upacara dipimpin oleh ustadz Ajat dan Pembina ustadz Didi. Ustadz Didi berpesan “bahwa saat ini tugas utama siswa da siswi SD Islam Al-Izzah Purwokerto adalah belajar denga rajin dan tekun. Karena dengan belajar rajin dan tekun teman-teman sudah berkontibusi untuk membangun Negera Indoensia yang lebih baik”. Para ustadz dan ustadzah terlihat rapih dan bersih, karena ustadz dan ustadzah memakai pakaian putih hitam dan latihan uapacara dengan rajin, sehingga upacara kali ini berkesan. Alhamdulillah upacara hari kemerdekaan berjalan dengan lancar dam sukses, terlihat siswa dan siswi sangat senang.

 

2

Adapun agenda selanjutnya yang tidak kalah ditunggu-tunggu adalah perlombaan.  Perlombaan kali ini bagi saya begitu sangat special, karena selain bertepatan dengan hari kemerdekaan  bertepatan juga  dengan special day yang biasa dilakukan setiap bulan sekali. Akan tetapi yang paling special adalah melihat semangat dan kebahagiaan anak-anak pada saat mengikuti lomba-lomba di hari kemerdekaan. Pada saat perlombaan anak-anak saling bertanding sportif dan semangat untuk bisa menjadi juara 1,2 dan 3. Ohh ya adapun perlombaan yang kami adakan ada beberapa cabang ni. Pertama lomba individu. Pada lomba individu kami laksanakan di lapangan Universitas Wijaya Kusuma. ADapun lombanya terdiri dari lomba balap karung, balap belut, balap kelereng, mewarnai dan pecah air. Sedangkan pada lomba kelompok kami bagi menjadi dua lomba yakni lomba tarik tambang khusus putra dan balap kertas khusus putri. Pada saat perlombaan berlangsung anak-anak begitu antusias dan semangat mengikuti setiap perlombaan. Bagi mereka menang bukan mejadi tujuan yang paling penting adalah mencoba dan berusaha menjadi yang terbaik. Menurut de Waldan kelas 1 An-Nashr “walaupun saya tidak mendapatkan juara pada perlombaan tahun ini akan tetapi saya senang karena bisa ikut main dan mencoba, kalah tidak menjadi masalah yang paling penting mencoba” ujarnya.

Jambore Ayah 2014

Bagi sebagian anak-anak mungkin banyak yang mengartikan tentang hari kemerdekaan adalah sebagai hari mengenang jasa para pahlawan dan ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Banyak kegiatan yang sering dilakukan pada saat hari kemerdekaa diantaranya adalah upacara bendera, perlombaaan, pawai, lomba gerak jalan dan lainnya. Akan tetapi bagi kami makna yang sebenarnya hari kemerdekaan adalah dimana manusia bisa terbebas dari hawa nafsu dan cinta terhadap dunia. Bagi kami makna hari kemerdekaan bukan hanya dilihat dari seberapa rapai upacara, meriahnya suatau perlombaan atau ramainya pawai antar desa. Namun bagi kami kemerdekaan yang hakiki adalah menjadikan diri ini menjadi hamba Allah SWT dan hanya bergatung kepadaNya bukan makhluknya. Karena dengan anak-anak mengerti dan mengenal Allah SWT mereka akan dengan sendirinya takut berbuat salah dan lebih mencintai agamanya. Oleh karena itu moment hari kemerdekaan sepatutnya sebagai momet intropeksi atau muhasabah diri apakah kita sudah “merdeka” dari hawa nafsu atau belum, “merdeka” dari makhluknya atau belum dan “merdeka” dari cinta dunia atau belum. Semoga di moment ini kami selaku guru dan murid SD Islam Al-Izzah Purwokerto sebagai pelajar bisa mengenal dan mencintai agamanya yakni Islam, karena dengan mengenal islamlah mereka bisa “merdeka” dari hawa nafsu, dunia dan makhluknya. Aamiin.

Itulah kisah yang bisa kami bagikan kepada kawan-kawan semua, semoga kita menjadi manusia yang semakin hari menjadi lebih baik dan menjadi makhluknya yang benar-benar “MERDEKA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *